Monday, December 25, 2006

'Godfather of Soul' James Brown dies



Hikss.. Turut berduka cita yg sedalam2nya untuk Opa Brown.

Gue termasuk salah satu orang yg beruntung bisa nonton dia live di JavaJazz Festival 2005.
Ga nyangka dgn masih banyak konser mendatang, Opa Brown udah harus dipanggil yg kuasa.

Dunia musik kehilangan salah satu musisi terbaik-nya

Rest In Peace, James Brown.

Ini dia berita-nya :
WASHINGTON (AFP) - US Singer
James Brown, known as the "godfather of soul", has died in the southern city of Atlanta at the age of 73, US media reported.

The reports said Monday he had checked in with pneumonia late Sunday into Emory Crawford Long Hospital, but hospital officials contacted early Monday declined to confirm or deny the accounts.

Brown began his professional music career in 1953 and achieved fame in the late 1950s and early 1960s after captivating the public by his live performances and a number of recorded hit songs.

The 1960s was the period of Brown's greatest popular success.

Two of his tunes, "Papa's Got a Brand New Bag" and "I Got You (I Feel Good)," hit the Top 10 pop lists, remaining the top-selling single in black venues for over a month apiece.

His national profile was further boosted that year by appearances in the films "Ski Party" and the concert film "The T.A.M.I. Show."

Jazz At The North Pole


  1. Let It Snow - Rosemary Clooney
  2. Rudolph The Red-Nosed Reindeer - Rickey Woodard/Cedar Walton
  3. Jingle Bells - Frank Vignola Quintet
  4. I`ll Be Home For Christmas - Gene Harris Quartet
  5. Santa Claus Is Coming To Town - Mary Stallings
  6. Have Yourself A Merry Little Christmas - Poncho Sanchez
  7. Christmas Song, The (Chestnuts Roasting On An Open Fire) - Scott Hamilton
  8. Winter Wonderland - Howard Alden/Ken Peplowski
  9. Who Says There Ain`t No Santa Claus - Michael Feinstein/Alan Broadbent
  10. Sleigh Ride - The Caribbean Jazz Project
  11. My Favorite Things - George Shearing
  12. Christmas Love Song, A - Rob McConnell & The Boss Brass
  13. O Tannenbaum, O Tannenbaum! (O Christmas Tree) - Dave McKenna
  14. What Are You Doing New Year`s Eve? - Carol Sloane
Entah anda merayakan Natal atau tidak, album ini layak dikoleksi.
One of the best album that i've ever heard.

Winter Wonderland

Selamat Hari Natal bagi semua yg merayakan-nya.

Biarpun saya tidak merayakannya, hari Natal mempunyai arti khusus dalam keluarga saya, karena tepat di tanggal 25 Desember, bapak saya berulang tahun, jadi setiap Natal kami selalu merayakannya, maksudnya bukan merayakan hari Natal-nya, tetapi merayakan hari dimana ayah saya dilahirkan.

Dan di keluarga saya, banyak juga yg merayakan Natal, Kakak dari ibu saya dan kakak dari eyang saya kebetulan menganut agama Nasrani sehingga kami sekeluarga ketika hari Natal bertandang ke rumah mereka.

So, all of you, have a wonderful Christmas.

Foto diambil di rumah kakak dari ibu saya yg kebetulan merayakan natal.

Sunday, December 24, 2006

The New Idol

Ada satu acara saya favoritkan setiap hari Senin - Kamis pukul 22.00 WIB di Trans 7. Sebenarnya bukan saya saja yg menggemari acara ini, hampir semua teman laki-laki yg saya kenal pasti menyebut Empat Mata menjadi acara favoritnya saat ini. Mungkin para wanita lebih memilih sinetron Wulan dibandingkan acara ini, karena jarang banget cewe2 yg nonton Empat Mata.

Di setiap episode-nya, Empat Mata selalu menghadirkan bintang tamu yg bisa diajak gila dengan Tukul. Bahkan sempat di beberapa episode Tukul dibuat mangkel oleh ulah bintang tamu-nya yg sengaja mengerjai-nya.

Tidak heran acara ini bisa meraih rating tinggi, selain lawakan-lawakan edan Tukul yg sangat ndeso, topik dan bintang tamu yg dihadirkan juga mampu mendukung acara ini dengan baik, hampir di setiap episode-nya saya dibuat tertawa terbahak-bahak sampai memukul-mukul tembok rumah atau menendang-nendang bantal karena saking geli-nya mendengar lawakan dari Tukul & Friends.

Siapa sangka, host dengan pembawaan seperti Tukul yg ndeso malah menjadikan acara ini terpopuler dibandingkan acara-acara sejenis lainnya ?

Congratz untuk Tukul, semoga acara-nya ini bisa bertahan lama.

Salam Empat Mata !! Fish to Fish, kembali ke LAPTOP !!!!

Friday, December 15, 2006

The Guardian

Ketika hari minggu lalu saya ke rumah salah satu teman kampus untuk mengambil bahan-bahan ujian sekaligus belajar bersama, ada sesuatu di dalam rumahnya yg menggugah insting jurnalistik saya.

Sesuatu itu adalah sebuah bangunan seperti pura kecil yg bawahnya ditutupi oleh semacam sarung. Bangunan seperti itu biasa ditemukan di Bali, tetapi tidak biasa saya temukan di Jakarta. Ketika di tengah pembelajaran, topik saya belokkan sebentar, saya tidak sabar bertanya tentang bangunan itu, karena jujur, selama saya mengunjungi Bali dan melihat bangunan itu, belum satu kalipun saya bertanya fungsi dari bangunan itu.

Kemudian teman saya menjelaskan, bahwa bangunan itu dinamakan Penumbung Karang, fungsinya adalah sebagai penjaga rumah dari gangguan hal-hal buruk atau hal-hal gaib. Jadi kalau ada orang yg mengirimkan santet atau ilmu-ilmu hitam, dengan adanya Penumbung Karang, segala santet ataupun ilmu hitam itu tidak bisa masuk ke dalam rumah. Sama seperti kalau ada pencuri yg ingin melakukan aksi kejahatan, pasti sesuatu yg buruk akan terjadi kepada pencuri itu yg berujung dengan gagalnya aksi pencurian di rumah tersebut. Jadi bangunan itu berfungsi layaknya satpam.

Saya lantas bertanya, apakah Penumbung Karang ini wajib dipasang oleh semua orang Bali di rumahnya ? Ia menjawab, tidak wajib, hanya disarankan bagi setipa orang Bali untuk memasangnya karena akan membawa keamanan bagi penghuni-nya.

Sebelum saya mengambil gambar Penumbung Karang ini, saya terlebih dahulu meminta izin kepadanya, dan ia mengizinkan, yg tidak boleh dilakukan di bangunan ini adalah tidur dan kencing (pipis) disitu. Melihat bangunan ini saya langsung teringat Bali, kapan saya kesana lagi ya ? Rindu sekali saya dengan pulau itu.

One thing for sure, I’ll keep my promise to go there with my future wife, whoever she is.
Seperti jurnal yg pernah saya buat beberapa bulan lalu di Multiply :

Island of Paradise

Indonesian Spiderman part. 2



Lagi-lagi bisa menemukan objek yg membuat saya mengacungi dua jempol untuknya.

The Art of Zen

After winning several archery contests, the young and rather boastful champion challenged a Zen master who was renowned for his skill as an archer.

The young man demonstrated remarkable technical proficiency when he hit a distant bull's eye on his first try, and then split that arrow with his second shot.

"There, "he said to the old man, “see if you can match that!”

Undisturbed, the master did not draw his bow, but rather motioned for the young archer to follow him up the mountain. Curious about the old fellow's intentions, the champion followed him high into the mountain until they reached a deep chasm spanned by a rather flimsy and shaky log. Calmly stepping out onto the middle of the unsteady and certainly perilous bridge, the old master picked a far away tree as a target, drew his bow, and fired a clean, direct hit.

"Now it is your turn," he said as he gracefully stepped back onto the safe ground.

Staring with terror into the seemingly bottomless and beckoning abyss, the young man could not force himself to step out onto the log, no less shoot at a target.

"You have much skill with your bow," the master said, sensing his challenger's predicament, "but you have little skill with the mind that lets loose the shot."

Moral of the story: Jangan pernah sombong, harus selalu diingat diatas langit masih ada langit.

This journal taken from Iman Hidajat’s blog, you inspired me much, sir.

All Eyes on Jiffest



Selain karena disibukkan dengan ujian dan membantu perusahaan bokap, salah satu alasan mengapa saya sudah lama tidak menulis di Blog ini adalah JIFFEST.

The 8th Jakarta International Film Festi val yg diadakan dari tanggal 8-17 Desember ini memaksa saya untuk hadir kedalamnya. Memaksa dalam artian bukan saya terpaksa, melainkan memaksa dalam artian sebagai pemerhati dan penggemar film-film nasional maupun internasional, saya seperti diwajibkan untuk menghadiri festival ini, dan berarti saya juga harus meluangkan waktu untuk menonton film-film di Jiifest ini.

Dan saya dengan senang hati dapat meluangkan waktu itu dikarenakan di penyelenggaraan Jiffest yg ke-8 ini berbeda dengan pe nyelenggaraan Jiffest di tahun-tahun sebelumnya. Berbeda dalam segi promosi lebih gencar, jumlah film yg dihadirkan, judul fim yg dipertontonkan lebih variatif tema-nya, venue yg mudah dijangkau, dan buku panduan yg tersebar dimana-mana.

Oiya yg membuat saya senang dengan penyelenggaraan Jiffest kali ini adalah, 50% dari film yg dipertontonkan tidak dipungut biaya alias GRATIS ! 50% film lagi memang diharuskan membayar tetapi untuk ukuran menonton di studio XXI, harga 25 ribu sudah termasuk sangat murah. Dan film yg dipertontonkan di festival ini adalah film yg pernah meraih penghargaan di festival-festival film internasional lainnya.

Jadi tidak ada alasan untuk melewatkan event berskala internasional yg diadakan setahun sekali ini, bukan ?

So far, di hari ke-8 Jiffest ini, saya sudah menonton 4 film.

- The Black Gold

- S-Express Philippines and S-Express Indonesia.

- Uzak (The Distant)

- Glanstobury

Review akan dibuat belakangan.

Rencananya, hari ini saya akan menonton Mother of Mine dan The Tiger and The Snow di Erasmus Huis, dilanjutkan keesokan hari-nya (Sabtu) menonton 9 Naga dan Russians Dolls. Mudah-mudahan jadi. Di hari terakhir Jiffest (Minggu) sebenernya saya ingin menonton dari siang hingga malam, tetapi saya harus mengurungkan niat itu karena ada urusan keluarga. Semoga saya masih bisa menonton satu film di hari terakhir itu. Karena ada satu film yg saya ingin sekali tonton di hari terakhir itu yaitu Something Like Happiness.

So, untuk yg merasa menumpuk DVD-DVD orisinil maupun bajakan dirumahnya atau yg merasa setiap minggu menyambangi 21 untuk menyaksikan film, masih ada 3 hari penyelenggaraan (termasuk hari ini), segera browsing situs Jiffest untuk mengetahui jadwal-jadwal film yg akan ditonton. Sungguh sayang rasanya untuk melewatkan festival film berskala internasional ini.

Maju terus Per-FILM-an INDONESIA !!!

Friday, December 08, 2006

Yaya part.2

Masih ingat keponakan dengan saya yg bernama Laras ?

Nah, 3 hari yg lalu saya mendapat e-mail dari sepupu saya, ibu-nya Laras, dia menanyakan bagaimana kabar keluarga semua di Jakarta, sekaligus ia memberitahu bahwa keadaan mereka di Milan baik-baik saja.

Dan yg membuat saya senang sekaligus kangen dan pengen adalah ketika sepupu saya itu mengirimkan foto-fotonya, Laras dan suami-nya ketika berada di Italia.

Kangen tentu saja dengan sepupu saya, dan tentunya Laras, apalagi dia sangat menggemaskan di foto-foto itu. Ingin rasanya saya mencubit-cubit pipinya dan bermain-main dengannya lagi.

Pengen ?? Tentu saja setelah dikirimi foto-foto yg bersetting di Italia dan Swiss, saya langsung membatin, kapan saya bisa menyusul mereka kesana ? Ya, doakan saja kami sekeluarga mendapat rezeki dan bisa terbang menengok mereka kesana. Atau doakan saja saya mendapat pekerjaan yg memungkinkan saya keliling dunia. Itu impian saya. Mudah2an bisa terwujud. Amin.

Oiya satu lagi yg saya mau beritahu, keponakan-keponakan saya memanggil saya Omas ! Karena saya masi terlalu muda dipanggil Om, dan juga bukan kakak-kakak dari mereka, jadi panggilan untuk saya disingkat : Omas. Ya, memang bukan panggilan yg bagus juga karena pasti akan mengingatkan kita kepada salah satu pelawak di Indonesia. Hahaha.. Tapi saya sangat senang, karena hanya saya yg dipanggil begitu. Berasa spesial dong. :p

White Shoes and The Couples Company

Okay, I have to admit this!

Band lokal favorit saya adalah mereka. Sejak saya mendengarkan lagu Senandung Maaf di OST Janji Joni, saya sudah meramalkan band ini akan punya prospek cerah di industri musik Indonesia, dan akan mempunyai banyak fans.

Dan benar saja ! Bahkan saya termasuk salah satu orang yg sangat mengidolai mereka. Musik-musik seperti ini sangat jarang dibawakan oleh grup band Indonesia saat ini, mungkin hanya Club 80’s, tapi mereka juga ga jadul2 banget, karena mengusung musik 80an, sedangkan
band ini ? Mereka mengusung musik 60an dan 70an.

Salut sekali! Karena di jaman itu mereka bahkan belum lahir. Mereka bisa menghadirkan musik-musik orangtua kita jaman dulu dengan sentuhan masa kini, dan musiknya seperti terdengar baru padahal produk lama.

Sudah 5 kali saya menonton performance dari band ini secara langsung. Kesemua-nya sangat berkesan, apalagi ketika pertama kali menonton mereka di gedung Radio Republik Indonesia dalam rangka peluncuruan album pertama mereka. It was an awesome gig!

Dan baru pada kesempatan kelima ini saya bisa leluasa ke depan panggung untuk menonton dan mengambil gambar mereka secara close-up tanpa banyak desakan dari orang-orang yg menontonnya. Hasilnya ? Sangat puas ! Puas dengan performance mereka dan puas dengan jepretan-jepretan saya.

See u at their next gigs!


She’s not what you’re thinking

To all my male friends,

Is she sexy enough to give you thoughts for your dirty mind inside your brain?
If yes, your sexual orientation must be different than others.

Because she is he! Haha... Gotcha!

Foto ini diambil Jumat minggu lalu ketika saya menghadiri acara guna menyambut hari AIDS yg diadakan di kampus saya. Diantara banyaknya band yg menjadi perfomer, terselip sekumpulan waria yg menyuguhkan hiburan yg membuat perut semua yg hadir di acara ini terkocok. Termasuk aksi wanita jadi-jadian ini.

Gondal Gandul

Ya, itu adalah nama band yg foto-nya terpampang diatas ini. Band ini turut meramaikan acara menyambut hari AIDS di kampus saya Jumat minggu lalu. Yg sangat menarik dari band ini adalah mereka mengusung slogan : Skill no, Nekad Yes !

Bayangkan saja, pengalaman pertama band ini manggung adalah ketika mereka mengisi sebuah acara kumpul-kumpul The Jakmania !! Jakmania adalah perkumpulan suporter klub Persija Jakarta. Kenapa patut disaluti ? Karena Jakmania terkenal (agak) sangar dan jika tidak senang terhadap sesuatu, mereka dengan gampang bertindak kurang sopan dengan membuat keributan. Maka, dengan pengalaman sudah manggung di depan para Jakmania, band ini seperti layaknya sudah melewati ujian manggung terberat.

Dengan membawa personil yg sangat banyak (kyk bawa orang sekampung), mereka bisa dikatakan sebagai band dengan penampilan terbaik di acara itu. Mereka dengan luwesnya menyanyikan lagu-lagu dari seorang legenda ibukota, Benyamin Syueb. Lagu-lagu seperti Kompor Meleduk, Hujan Gerimis, Malem Minggu, Nangke Lande berhasil dibawakan dengan gaya yg menghibur dan mengocok perut siapa saja yg menontonnya.

Tapi sayangnya, ketika mereka sudah menampilkan performance yg maksimal, penonton yg hadir seperti tidak merespon balik band ini dengan tepuk tangan yg meriah. Sepertinya hanya saya dan segelintir penonton yg bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak menyaksikan mereka. Mungkin karena kurangnya pengetahuan yg minim tentang lagu-lagu dari Betawi terutama lagu-lagu Bang Bens menjadikan penonton yg hadir waktu itu seperti ingin cepat-cepat band itu turun panggung saja. Saya agak-agak kasian juga melihat band itu, karena kurang berhasil membawa penonton, padahal menurut saya band-band yg seperti inilah yg mampu membuat perubahan diantara band-band yg hadir dengan mengusung tema dan aliran yg sama.

Tetapi bukan salah Gondal-Gandul tidak bisa membawa penonton, hanya saja salah tempat manggung, coba mereka manggung di tempat yg lebih merakyat, mungkin yg nonton bejubelan. Saya sendiri sangat senang menonton penampilan mereka, karena saya sendiri menggagumi lagu-lagu karya Bang Bens, bahkan saya merasa kurang dan ingin melihat mereka manggung lagi di kesempatan yg lain.

Monday, December 04, 2006

Lighthouse Family

Untungnya bad mood saya ini berangsur membaik setelah terhibur oleh duo (Tunde Baiyewu dan Paul Tucker) asal Newcastle, Inggris ini.

Mereka adalah salah satu grup musik favorit saya sepanjang masa. Setiap saya sedang emosi-emosinya dan kesal-kesalnya terhadap sesuatu atau seseorang, otak saya seperti terprogram untuk menyetel lagu-lagu mereka. Maka dengan sendirinya rasa kesal itu akan berkurang dan berangsur hilang.

Atau juga ketika cuaca sedang seperti saat ini, mendung disertai angin dingin, dan diakhiri dengan hujan, mendengarkan lagu-lagu mereka seperti sebuah kewajiban.

Lagu-lagunya membuat pikiran kita melayang ke sebuah tempat yg sangat indah

Tempat yg akan membuat badan dan pikiran kita segar, tempat yg membuat kita selalu tersenyum, tempat yg jauh dari kepadatan, tempat dengan banyak pemandangan alam yg luar biasa, tempat yg cocok dikunjungi jika penat dan stress melanda, tempat yg... silahkan anda definisikan sendiri.

Hanya satu yg saya sayangi, mereka memutuskan untuk bubar, padahal saya yakin mereka masih bisa membuat album-album yg lebih dasyhat lagi. Tapi tak apalah, toh saya mempunyai koleksi album-albumnya lengkap. Saya hanya berharap di suatu saat mendatang mereka akan bergabung kembali.

”I know I’ve been living the simple life
really that’s the main thing…”

(Lighthouse Family - Question of Faith)

Pictures courtesy of Lighthouse Family

Bad Mood

@!*&#$^^*&((_)_UA*Y@#*@^238^&*^27*(!^1798*^*@@

Mungkin character-character diatas bisa mewakili bagaimana perasaan hati saya saat ini.

Kesel ! Gedeg ! Emosi ! Menggerutu !

Masalahnya kali ini bukan dengan sesama manusia, tetapi terhadap benda. Dan benda itu adalah benda yg sangat saya sayangi, benda yg menjadi teman saya selama 4,5 tahun ini, benda yg menemani saya bernyanyi, benda yg menemani saya menonton film, benda yg menemani saya menulis, benda yg menemani saya melihat hasil jepretan foto-foto saya, benda yg sudah menghasilkan tambahan penghasilan dan banyak hal yg sudah saya jalani bersama benda ini.

Tidak sering juga benda ini membuat saya kesal seperti ini, mulai dari masalah hardisk jebol, power supply mati, terkena virus Brontok dan lainnya.

Dan hari ini saya kembali dibuat kesal olehnya. Bayangkan saja, kmarin saya baru saja dipinjami dan diberi 5 CD Jazz terbaru oleh 2 orang teman saya. (Thanks Ti, thanks mas Riz). Karena hari minggu kmarin saya sangat lelah maka saya putuskan untuk mendengarkan sekaligus memindahkan CD itu ke I-Tunes untuk kemudian dimasukkan ke dalam I-Pod saya hari Senin ini. Guess what ? CD-Rom dan CD-Writer saya tidak berfungsi sama sekali, setelah dikutik2 sebentar tetap tidak nyala. Ternyata masalahnya ada di kabel yg menghubungkan motherboard dan hardware. Kabel itu nempel di CD-Rom saya dan ketika ! Aargh !!! Kesel banget !!!

Ironisnya adalah, ketika saat ini saya sedang mengetik di PC ini, kelima CD anyar itu berada persis di samping saya, tidak bisa sama sekali saya memasukkannya ke dalam CD-Rom atau CD-Writer saya. Hiks, terpaksa saya hanya bisa mendengarkannya di CD Player saya saja, tanpa bisa memasukkannya ke I-Pod.

Harus menunggu sampai besok sampai saya ke Mal Ambasador untuk membeli kabel penghubung itu.

Friday, December 01, 2006

Berwisata

Dan kita berjanji untuk berwisata...

Dengan kereta menuju ke Stasiun Kota..

Berjalan melewati gedung-gedung tua...

Berdua.. Oh senangnya..

Kita melanjutkan dengan bus Transjakarta...

Ke pemberhentian di dekat Istana Negara...

Menikmati suasana kota Jakarta..

Berwisata..


All words are taken from t
he song: Berwisata by
The Adams

Click

Adam Sandler done it again !

Setelah sukses dengan 50 First Dates-nya yg menyampaikan tema yg sebenarnya sangat umum tetapi berhasil dikemas dengan cara penyampain yg tidak lazim dan pada akhirnya sangat mengena terhadap siapapun yg menontonnya, kali ini dia berhasil melakukan hal yg sama.

Pelajaran yg bisa dipetik dari film ini sangat banyak dan sangat besar pengaruhnya kepada siapapun yg menontonnya. Adam Sandler lagi-lagi berhasil mengajak penonton untuk mengingat kembali hal-hal kecil yg kadang sering terabaikan oleh manusia. Bukan hanya mengingat tetapi menyadari dan dilanjutkan dengan memperbaikinya. Film ini seperti ditujukan oleh orang-orang diluar sana yg gila terhadap pekerjaannya sehingga melupakan dunia dan keluarganya. Pada akhirnya pelajaran terpenting yg bisa dipetik dari film ini adalah : no matter what, no matter how, no matter where, FAMILY COMES FIRST.

Walau remote seperti itu tidak pernah akan ada dalam kehidupan manusia, inti dan tema cerita yg akan disampaikan adalah hal yg terpenting, dalam hal itu saya berhasil mencapainya bahkan pada beberapa adegan saya hampir saja menitikkan air mata karena berhasil dibuat terharu. Jadi saya tidak segan-segan memberi film ini 4 bintang. Karena sampai kapanpun pelajaran dari film ini akan terus saya ingat. Sesibuk apapun saya, harus diingat bahwa kepentingan keluarga adalah nomor satu, karena jika saya mengabaikannya, waktu tidak bisa diputar kembali untuk memperbaikinya.

TransJakarta

Mayoritas masyarakat ibukota menyebut jasa transportasi ter-gres dari pemerintah ini adalah ”busway”, padahal jika dilihat dari konteks bahasa, arti dari busway adalah jalur khusus bus.

Jika diartikan menurut pemerintah, busway adalah jalur khusus yg dibangun oleh pemerintah untuk menunjang transportasi baru (bus) yg akan beroperasi di jalur itu, yaitu bus TransJakarta.

Tapi masyarakat Jakarta, termasuk saya, jika ditanya apakah transportasi baru yg 1 tahun lalu dibuat pemerintah ? 90% pasti akan menjawab, BUSWAY. Padahal jawaban itu jelas-jelas salah, karena busway adalah jalur bus, nah kekeliruan semacam inilah yg sangat akrab ditemui di Indonesia. Sampai-sampai seorang Jaya Suprana menulis buku yg mengambil berjudul Kelirumologi. Dalam buku itu dibahas kekeliruan-kekeliruan yg terjadi di bangsa ini, kalau saja Jaya Suprana mau menerbitkan ulang buku itu, tampaknya masalah BUSWAY bisa dimasukkan sebagai tambahannya.

Tetapi dengan banyaknya kekeliruan semacam itu, menjadikan ibukota ini mempunyai ciri khas yg tidak dipunyai ibukota-ibukota lainnya. Keliru macam begitu masih wajar, asalkan jangan kebanyakan ”keliru” saja, negara ini bisa-bisa tidak maju-maju.