Wednesday, April 18, 2007

Nagabonar Jadi 2


Sebelum saya mereview film ini, saya jadi teringat satu hal, kapan terakhir kali saya berniat datang ke bioskop khusus untuk menonton film Indonesia ? Jawabannya agak sulit diingat, tapi yg pasti saya ingat apa film lokal terakhir yg saya saksikan di layar lebar, Janji Joni. Damn ! Berarti sudah sangat lama sekali saya tidak menyaksikan karya sineas negeri sendiri di bioskop ! Bahkan film sekaliber Berbagi Suami, yg mengundang banyak review bagus tidak sempat saya tengok di layar lebar. Film-film Indonesia yg setahun ini beredar lebih banyak saya saksikan lewat VCD yg saya sewa dari Video Ezy, itu juga film-film yg menurut review layak untuk ditonton.

Sampai akhirnya ada satu film lokal yg sangat menggugah batin saya untuk menyaksikan-nya di layar lebar. Sekuel dari fim populer di era 80-an, Nagabonar, yg sempat menyabet piala Citra pada Festival Film Indonesia 1987. Saya sendiri ketika Nagabonar melejit di jaman itu baru berusia 2 tahun, bahkan ketika sekuel ini muncul, pengetahuan saya mengenai Nagabonar sangat minim, saya hanya tahu sekilas saja. Lalu mengapa saya sampai sangat tertarik untuk menonton film ini ? Pertama, tentu saja review dari orang-orang yg sudah menonton, mereka mengatakan NB2 (Nagabonar 2) masuk dalam kategori ”istimewa” dibandingkan film-film lokal lainnya. Kedua, karena NB2 mempunyai sesuatu yg berbobot. Maksud berbobot disini adalah selalu ada makna tertentu dibalik dialog-dialog yg dilontarkan oleh para karakter juga adegan-adegan dalam film ini. Baik itu sentilan dan sindiran terhadap pemerintah dan masyarakat bangsa ini, kritik sosial, permasalahan religi maupun usaha Deddy kepada para generasi muda untuk kembali menumbuhkan semangat nasionalisme yg semakin lama sudah tampak semakin pudar.

Akting dari Deddy Mizwar sebagai Nagabonar sungguh luar biasa, baru kali ini saya melihat seorang aktor dalam dunia perfilman Indonesia bermain sungguh maksimal dalam menghayati peran-nya. Selain Deddy, menurut saya aktor yg bermain bagus disini adalah Mike Muliadro, yg berperan sebagai Jaki. Sebagai aktor pendatang baru, dia mampu membuat karakter-nya lebih hidup dibandingkan karakter ketiga rekan-nya yg lain, termasuk anak si Nagabonar itu sendiri Bonaga (Tora Sudiro), dan dua rekan bisnis-nya, Pomo (Darius Sinatrya), dan Ronnie (Ulli Herdinandsyah). Jaki mampu menghadirkan sosok anak muda ”lurus” jaman sekarang yg melaksanakan kewajibannya yg diperintahkan agama-nya (sholat) tetapi setelah itu tetap berdugem bersama teman-teman-nya. Selain karakter diatas, karakter lain yg menonjol di film ini adalah seorang supir bajaj bernama Umar yg diperankan Lukman Sardi dan teman wanita Bonaga, Monita yg diperankan oleh Wulan Guritno.

Ada satu adegan yg membuat saya tertawa getir, ketika seorang Bonaga, yg disini diceritakan sebagai sosok yg ganteng, keren, gaul, tajir dan trendy mempunyai satu masalah klasik yg juga menjadi masalah umum kebanyakan kaum laki-laki (termasuk saya), ketika bagaimana dia sudah sebegitu dekat-nya dengan seorang wanita (Monita) tetapi sangat sulit untuk mengungkapkan perasaan hati-nya padahal terlihat jelas Bonaga sangat ”naksir” Monita, dan tentu saja Monita walaupun dia juga menaruh hati terhadap Bonaga tetap tidak bisa mengutarakan perasaan-nya kepada Bonaga karena kodrat-nya sebagai wanita (walaupun banyak wanita pada jaman sekarang ini nekad untuk mengutarakan perasaan-nya duluan sebelum laki-laki itu me”nembak”-nya), apalagi sosok Monita disini adalah seorang wanita karir yg sangat sibuk dengan pekerjaan-nya, mandiri dan seperti tidak membutuhkan sosok seorang lelaki. Dan satu percakapan lagi yg membuat saya (lagi-lagi) tersenyum getir adalah ketika Nagabonar menanggapi curhat Bonaga terhadapnya. Kurang lebih dialog-nya seperti ini :

Bonaga : ”Monita itu wanita mandiri, sibuk dengan pekerjaan-nya, mana ada dia waktu untuk memikirkan cinta dan laki-laki seperti aku”.

Nagabonar : ”Wanita tetaplah wanita, mau seperti apa juga, tetaplah dia membutuhkan hal seperti itu, cepatlah sana kau kejar dia”.

Overall, Nagabonar Jadi 2 adalah film terbaik menurut saya yg pernah dihadirkan di layar lebar Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini, kekurangan dari film ini hanyalah satu, ketika saya kira film ini sudah mencapai ending-nya, ternyata belum selesai dan masih berlanjut, sehingga menyebabkan ending yg kurang pas. Mungkin ini hanya satu kritik dibandingkan banyaknya pujian sepanjang film ini diputar. Film ini menurut saya adalah potret nyata keadaan bangsa kita ini, baik dari karakter orang-orangnya maupun keadaan negara ini sendiri, baik dari kalangan atas sampai kalangan bawah dirangkum jadi satu disini.

Bung Deddy, well done ! Saya tunggu karya-karya anda yg lain.

Dan bagi semua yg belum nonton film ini, ga usah pikir-pikir lagi, langsung ke bioskop, beli tiket film ini, selain tertawa terbahak-bahak, siap-siaplah untuk menjadi saksi salah satu film Indonesia yg sangat berkualitas.

Wednesday, April 11, 2007

Rome wasn't built in a day, but it was destroyed in 90 minutes !!



Dari tahun 1996 saya mendukung klub ini, pengalaman menonton pertandingan semalam bisa masuk salah satu momen terbaik saya selama menonton klub kesayangan saya ini bertanding. Tentu-nya momen terbaik saya ketika tahun 1999, ketika klub ini merebut treble dengan sangat dramatis.

Saya sudah sampai tidak bisa berkata-kata lagi skrg.
Saking senangnya. Saking tidak percaya-nya mereka bisa membuat malam kmarin begitu indah untuk saya dan puluhan juta penggemar MU lainnya.

Saya tidak mau sesumbar dulu kalau MU akan meraih treble di musim ini, tapi saya terus berharap agar treble itu terulang kembali musim ini.

GLORY GLORY MANUTD !!

Monday, April 09, 2007

Travelers’ Tale - Belok Kanan : Barcelona

Apa faktor utama saya membeli dan membaca buku ini ?

Jawabannya hanya satu : Penulisnya.

Dan didalam buku yg ditulis oleh 4 orang ini, jika anda mengira faktor utama saya membeli buku ini karena Adhitya Mulya dan Ninit Yunita atau bahkan Alaya Setya, anda salah besar. Faktor utama saya langsung mencari buku ini sampai ke beberapa toko buku lain karena sudah habis di toko buku yg biasa saya tongkrongi adalah karena salah satu penulis dalam novel ini adalah Iman Hidajat.

Siapakah dia ?

Bukan ! Dia bukan seorang penulis yg sudah menerbitkan banyak buku, bahkan ini adalah buku pertama-nya. Dia juga bukan seorang penulis lepas terkenal yg tulisan-nya biasa nongol dimana-mana, walaupun tulisannya memang biasa muncul di salah satu majalah wedding ternama Indonesia. Dia hanya seorang Iman Hidajat. Seseorang biasa yg mempunyai pekerjaan yg luar biasa asiknya dan sebuah blog yg luar biasa bagusnya.

Blog yg membuat saya makin senang dengan hobi saya yg serupa dengannya yaitu travelling, photography dan menulis. Kesenangan saya itu jugalah yg menghasilkan sebuah blog yg agak-agak terinsipirasi dari blog-nya, walau gaya menulis kami berbeda dan different stories tentunya.

Oke enough about Iman, skrg kita membahas buku-nya.

Di dalam novel ini terdapat 4 karakter, 2 lelaki dan 2 perempuan, yg bersahabat dari kecil. Ketika memasuki masa SMU, mereka mulai jatuh cinta satu sama lain, cuma kebanyakan cinta mereka tidak sempat tersampaikan karena dihalangi oleh persahabatan mereka. Sampai pada akhirnya mereka beranjak dewasa, mereka tumbuh besar dan bekerja di negara yg berbeda. Dan satu hal yg harus mempersatukan mereka lagi, ketika salah seorang dari 4 sekawan ini mengirimkan undangan pernikahan dengan seorang gadis Spanyol di Barcelona. Dari belahan dunia yg berbeda, mereka memaksakan diri untuk hadir ke Barcelona dengan misi-nya masing-masing, menyampaikan perasaan yg tidak tersampaikan itu, dan mencari jawaban atas perasaan yg sudah sekian lama mereka pendam.

Kalau anda mengira ini adalah novel biasa, dengan hanya bercerita dan bercerita sepanjang buku, anda salah besar. Dari konsep awalnya saja, buku ini sebenarnya sudah sangat menarik, memadukan 4 karakter dari 4 penulis yg berbeda dengan satu benang merah didalamnya. Selain kita bisa mengikuti 4 buah cerita disini, keunikan lain adalah buku ini bisa menjadi semacam buku travel guide bagi kita semua, karena keempat karakter ini menceritakan bagaimana mereka melakukan perjalanan mengelilingi dunia, mengunjungi tempat-tempat indah di dunia, dan tentunya tips-tips penting untuk anda yg suka travelling dan menjadi backpacker. Selain itu, ada juga banyak sekali foto-foto dari tempat-tempat di seluruh dunia yg sangat bagus di dalam buku ini.

Inti-nya, membaca buku ini seperti dihadapkan pada realita kehidupan nyata, setidaknya itu bagi saya. Membuat saya ingin mempercepat rencana jangka panjang saya untuk melakukan perjalanan keliling dunia (lagi!), done that when I was 10, skrg inginnya without my parents tentu-nya, and with my own money (hopefully). Dan satu lagi, membuat saya berpikir, apakah cinta sejati saya ternyata ada dalam diri sahabat wanita saya ? Hmmm.. kalau yg itu no komen dulu ah karena saya punya banyak sahabat wanita.. tinggal memilih yg tercocok maybe ? Ah sudah dibilang no komen masi dibahas aja.. Hehehehe…

So, enjoy the book.

Oiya, ini link blog yg saya bilang diatas tadi :

Iman Hidajat : www.kacamatasaya.blogspot.com

Alaya Setya : www.aalayaa.tripod.com
Adhitya Mulya : www.suamigila.com
Ninit Yunita : www.istribawel.com